Jalan Hijrah


Dear Diary,
Tak terasa bulan Muharram telah tiba. Memasuki bulan ini membuat hatiku bergetar. Betapa tidak, bulan ini adalah momen hijrah Rasulullah bersama para sahabatnya. Hijrah yang dilandasi dengan kecintaan dan ketaatan kepada Allah. Hijah yang bukan sekadar untuk melanjutkan kehidupan yang baru, tetapi untuk melanjutkan perjuangan dakwah.

Sementara aku... Disudut kamar ini aku hanya bisa berdiam diri membayangkan beratnya perjuangan yang dijalani oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Betapa hijrah yang mereka jalani begitu berat, tapi keimanan mereka begitu kuat menghujam. Kenapa aku tak sekuat itu?

Dear Diary,
Aku teringat masa itu. Masa dimana aku memutuskan untuk hijrah menjadi lebih baik, mengikuti langkah manusia yang sangat mulia. Masih lekat dalam ingatanku saat pertama kalinya aku mengenakan hijab berwarna pink dikepalaku. Hijab pertamaku, tapi bukan milikku.

Setelah lelah membujuk Bapak yang tak jua mengizinkanku untuk memakai hijab, akhirnya aku menyerah. Bukan menyerah untuk memakai hijab, tapi menyerah membujuk Bapak. Aku harus pikirkan cara lain agar aku tetap bisa memakai hijab daaann akhirnya terpikirlah cara itu.

Teman didekat rumahku ada  yang kakaknya habis melepas hijab karena memilih bekerja di kantor. Waktu itu muslimah berhijab belum bisa diterima bekerja di kantor jadi bila mereka mau bekerja di kantor, mereka harus mau melepaskan hijabnya. Dan itu jalan yang diambil oleh tetanggaku. Kupikir hijabnya pasti tidak dipakai kan? Akhirnya kupinjam saja daripada disana hanya memenuhi lemarinya.

Diary Sayang,
Aku masih ingat dengan baik tatapan Bapak saat melihatku keluar kamar memakai hijab. Sebelum Bapak marah aku buru-buru lari keluar kamar. Ternyata memakai hijab dimasa itu tak semudah yang aku bayangkan. Banyak teman dan saudara yang belum bisa menerima hijabku. Aku sering sekali ditatap dengan pandangan mata yang tidak mengenakkan, disindir dengan kalimat yang tajam, bahkan terkadang cacian yang terang-terangan. Ah, tapi kujalani saja, karena aku sudah membulatkan tekad untuk hijrah maka aku harus kuat.

Kau tahu apa yang paling menyakitkan Ry? Waktu itu Pak RT datang kerumahku dan menanyakan aku islam aliran apa? Hatiku sedih sekali, Ry. Beliau bilang aku tidak boleh mempengaruhi teman-temanku yang lain untuk pakai hijab, karena tidak ingin dilingkungannya ada warganya yang ikut aliran sesat. Aku muslimah, Ry. Aku harus menutup auratku. Aku berhijab bukan berarti aku ikut aliran sesat.

Keluargaku juga sama saja, mereka tak ada bedanya dengan Pak RT. Mereka menginterogasiku saat ada acara kumpul keluarga besar. Aku serasa disidang, Ry. Padahal waktu itu aku masih remaja, baru kelas 1 SMA. Kau takkan bisa membayangkan perasaanku diinterogasi seperti itu dihadapan seluruh keluarga besarku. Tapi aku takkan menyerah Ry. Terserah orang mau bilang apa, aku akan terus menjaga hijabku. Dan Alhamdulillah Allah menguatkanku Ry, hijabku masih terjaga hingga kini.

Diary Sayang,
Betapa aku dulu begitu tegar. Kenapa aku yang sekarang begitu lemah? Mengapa begitu mudah hatiku bersedih padahal selalu ada Allah bersamaku? Dulu kisah hijrahku dengan hijabku, saat ini adalah kisah hijrahku dengan cadarku. Apa yang kualami mungkin tak jauh berbeda dari waktu itu, tapi satu yang membedakan adalah semangatku dulu sangat kuat. Aku tak peduli bagaimana orang lain memperlakukanku yang penting aku tetap baik dan bersikap lemah lembut. Hingga akhirnya mereka yang tak bisa menerima hijabku lama kelamaan bisa menerimanya. Aku berharap sat ini pun aku bisa sekuat dulu.

Aku sangat bersyukur bulan Muharram ini telah tiba, karena kehadirannya menjadi cermin untukku. Aku bisa berkaca pada sosok Bilal bin Rabah yang hijrahnya begitu berat dan menyakitkan. Disiksa dan dijemur dibawah padang pasir yang panas, diolok-olok, ditindih batu besar, tapi tak melunturkan keimanannya. Juga sosok Sumayyah yang begitu tegar dengan keislamannya dibawah siksaan Abu Jahal yang menyiksanya dengan sangat keji padahal saat itu Sumayyah sedang hamil, hingga kematian menjemputnya dalam balutan cinta dan keimanan kepada Allah. Syahidah pertama yang mengharumkan bumi dengan darahnya, airmatanya dan keikhlasannya.

Ah Ry, aku harus menata kembali hatiku agar hijrahku lebih baik. Bulan ini adalah bulan hijrah. Tak ada waktu untuk bersedih. Aku harus membangun kembali semangat hijrahku. Menjadi pribadi yang jauh lebih baik, lebih kuat, lebih sabar dan lebih bermanfaat dari aku yang dulu. Bersama waktu aku pasti bisa menjalaninya dengan baik. Tunggu saja ya, Ry. Tunggu aku yang baru. Yang lebih baik.

Sekarang aku tidur dulu ya Ry, karena malam sudah semakin larut. Besok pagi aku akan bangun dengan semangat dan kekuatan yang baru.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tempat Pijat Refleksi Yang Nyaman di Depok

Nice Home Work 9

Nice Home Work 6